Bayangin gini: kualitas air di sungai naik-turun, perusahaan punya IPAL, dan pemerintah butuh data yang akurat buat ambil keputusan. Nah… semua keputusan itu dimulai dari satu langkah kecil: cara mengambil sampel air dengan benar.
Dan di sinilah sosok penting itu muncul — Pengambil Contoh Uji Air.
Profesi ini mungkin terdengar sederhana, tapi kesalahan kecil aja (misalnya wadah kotor atau titik sampling salah) bisa bikin data jadi melenceng. Hasilnya? Kebijakan jadi salah arah. Makanya, profesi ini selalu dicari, terutama di industri lingkungan, laboratorium, dan proyek-proyek pemantauan kualitas air.
Apa Itu Pengambil Contoh Uji Air?
Definisi Menurut Regulasi
Berdasarkan regulasi pengembangan kompetensi di bidang lingkungan, Pengambil Contoh Uji Air adalah individu yang memiliki kemampuan teknis untuk melakukan proses pengambilan sampel air sesuai standar, prosedur, dan ketentuan mutu baik untuk air permukaan, air tanah, air limbah, maupun air laut.
Mereka nggak cuma “mengambil air ke botol”, tapi menjalankan proses ilmiah yang harus terukur, terstandar, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Kenapa Penting?
Karena hasil uji laboratorium cuma seakurat sampel yang diambil.
Kalau sampel salah → hasil salah → keputusan salah.
Contoh dampaknya:
Pabrik bisa dianggap “aman” padahal sebenarnya mencemari.
Sungai bisa terlihat “buruk” padahal sebenarnya kondisinya stabil.
Desain instalasi pengolahan air jadi tidak tepat.
Tugas dan Ruang Lingkup Kerja Pengambil Contoh Uji Air
Tugas Utama
Menyusun rencana sampling (RPS atau sampling plan).
Menentukan titik, kedalaman, dan metode pengambilan sampel.
Menggunakan alat sampling yang tepat (bailer, Van Dorn, autosampler, dsb).
Melakukan pengukuran parameter lapangan:
Mengawetkan sampel sesuai parameter analisis.
Mengisi dokumen rantai custody (CoC).
Menyerahkan sampel ke laboratorium tepat waktu.
Menjaga keselamatan & kesehatan kerja di lapangan.
Ruang Lingkup Area Sampling
Air Permukaan (sungai, danau, waduk)
Air Tanah (sumur gali, sumur bor)
Air Limbah (outlet IPAL / WWTP)
Air Laut (surface hingga kedalaman tertentu)
Masing-masing punya standar teknis berbeda, misalnya soal titik sampling, teknik pengambilan, dan alat yang digunakan.
Prosedur Pengambilan Sampel Air (Step-by-Step untuk Pemula)
Bagian ini paling dicari pemula—dan juga paling sering salah dilakukan. Jadi aku bikin urutan simpel tapi tetap akurat.
1. Persiapan Sebelum Turun Lapangan
Checklist wajib:
Rencana sampling lengkap (lokasi, titik, waktu, parameter).
APD: sarung tangan, sepatu boat, helm, rompi keselamatan.
Wadah sesuai parameter (HDPE, kaca amber, atau botol steril).
Formulir CoC & label.
Alat ukur parameter lapangan.
Bahan pengawet (asam nitrat untuk logam, H₂SO₄ untuk BOD, dan lainnya).
Ice box berisi es pecah.
Kesalahan fatal yang sering terjadi: lupa kalibrasi alat. Ini bisa bikin data lapangan nggak valid.
2. Menentukan Titik & Kedalaman
Setiap media punya aturan:
Sungai: ambil di arah hulu → tengah → hilir.
Danau/Waduk: titik inlet, outlet, tengah.
Air Tanah: biarkan pompa berjalan 5–10 menit sebelum mengambil sampel.
Air Limbah: ambil di outlet final setelah proses pengolahan stabil.
Tips: pastikan titik sampling aman dari aktivitas manusia atau rembesan minyak.
3. Teknik Sampling: Grab & Composite
Dalam audit industri, composite sering dipakai untuk mendapatkan gambaran fluktuasi produksi.
4. Mengambil Sampel dengan Alat yang Tepat
Contoh alat yang sering digunakan:
Bailer: air tanah & sumur bor.
Van Dorn / Kemmerer: air permukaan dan danau pada kedalaman tertentu.
Autosampler: air limbah industri.
Water bottle: sampel permukaan air.
Jangan pernah menggunakan wadah tanpa label atau wadah yang pernah dipakai untuk bahan kimia lain.
5. Pengawetan & Penyimpanan
Setiap parameter punya perlakuan berbeda:
Fokusnya: supaya sifat kimia air tidak berubah sebelum diuji.
6. Dokumentasi & Rantai Custody
CoC itu “paspor”-nya sampel. Isinya:
Nomor sampel
Lokasi
Waktu
Parameter
Pengawetan
Nama pengambil sampel
Tanda tangan
Kondisi penyimpanan
Tanpa CoC, hasil laboratorium bisa dianggap tidak sah.
7. Pengiriman Sampel ke Laboratorium
Sampel sensitif kayak mikrobiologi harus tiba <6 jam.
Logam bisa lebih lama (24–48 jam), asalkan pengawetan benar.
Alat & Peralatan yang Digunakan
Alat Lapangan
Bailer
Van Dorn Water Sampler
Kemmerer Sampler
Autosampler
Jerigen/wadah HDPE
Peralatan Pengukuran Lapangan
pH meter
DO meter
TSS kit
Turbidimeter
Multiparameter probe
Perawatan & Kalibrasi
pH meter wajib kalibrasi 2–3 titik.
DO meter perlu polarizing time.
Multiparameter harus dibersihkan setelah digunakan.
Kalibrasi itu “nyawa”-nya akurasi.
Standar, Regulasi, dan Sertifikasi (Paling Dicari Pemula)
Standar Teknis SNI & Pedoman
Umumnya mengacu pada:
Praktik sampling air permukaan
Praktik sampling air limbah
Standar pengukuran parameter lapangan
Metode pengawetan & transportasi
Integrasi SKKNI Limbah B3
Selain standar teknis sampling air, profesi ini juga tidak terlepas dari kerangka kompetensi lingkungan yang lebih luas. Banyak praktisi yang bekerja sebagai Pengambil Contoh Uji Air juga berinteraksi dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk Pengelolaan Limbah B3, terutama ketika melakukan pemantauan limbah cair berbahaya, pemeriksaan area industri, atau pengambilan sampel pada outlet IPAL. SKKNI ini membantu memastikan setiap petugas memahami karakteristik limbah B3, risiko paparan, dan prosedur penanganannya secara aman serta terukur.
Dengan kata lain, kompetensi dalam pengambilan sampel air dan pemahaman SKKNI Pengelolaan Limbah B3 saling melengkapi—keduanya menjaga akurasi data sekaligus menjamin keselamatan kerja di lapangan.
Sertifikasi Kompetensi (BNSP)
Untuk bekerja di bidang ini, banyak instansi meminta:
Sertifikasi Pengambil Contoh Uji Air
Diterbitkan oleh LSP terlisensi BNSP
Berbasis unit kompetensi resmi
Materi uji biasanya mencakup:
Kalau kamu sudah memahami cara kerja Pengambil Contoh Uji Air, langkah berikutnya adalah memperluas kompetensi—terutama kalau kamu tertarik bekerja di pengolahan air limbah atau pengendalian pencemaran.
Kamu bisa mulai dari sini:
👉 Panduan Lengkap Sertifikasi PPPA dan POPAL: Kunci Kompetensi Profesional di Bidang Pengendalian Pencemaran Air dan Limbah.
Contoh Kasus Lapangan
1. Sungai Dekat Industri
Tim sampling menemukan perbedaan DO antara hulu dan hilir. Setelah dicek, ternyata titik hilir dekat pembuangan air dari industri tekstil.
Karena DO turun drastis, analisis lanjut dilakukan untuk BOD dan COD. Hasilnya membantu DLH menentukan langkah pengawasan.
2. Outlet IPAL yang Stabil-Tidak Stabil
Pada beberapa industri, hasil pengujian awal bagus, tapi sampel berikutnya buruk. Setelah dilakukan composite sampling, ketahuan kalau operasional IPAL tidak stabil sepanjang hari.
Bagaimana Memilih Pelatihan yang Tepat?
(Tanpa hard sell, hanya panduan objektif)
Checklist:
✔ Pastikan lembaga pelatih bekerja sama dengan LSP BNSP
✔ Materi sesuai standar: teknik sampling, parameter lapangan, CoC
✔ Ada praktik lapangan langsung
✔ Instruktur berpengalaman di sampling & laboratorium
✔ Durasi pelatihan cukup (2–3 hari)
Untuk referensi lebih lengkap, kamu bisa baca artikel pilar:
👉 https://hseskillup.com/pengambil-contoh-uji-air/
FAQ (Pertanyaan Mengenai Pengambilan Contoh Uji Air)
1. Apa tugas utama Pengambil Contoh Uji Air? Mengambil sampel air secara benar sesuai standar, mengawetkan, mendokumentasikan, dan menyerahkannya ke laboratorium dengan CoC lengkap.
2. Apa alat yang paling sering digunakan? Bailer, Van Dorn sampler, botol steril, DO meter, pH meter, multiparameter probe.
3. Apa bedanya grab dan composite sampling? Grab: diambil sekali.
Composite: beberapa sampel digabung, mewakili periode waktu tertentu.
4. Apakah harus memiliki sertifikasi BNSP? Untuk pekerjaan profesional di laboratorium atau konsultan lingkungan, ya—umumnya diwajibkan.
5. Berapa lama sampel dapat disimpan sebelum diuji? Tergantung parameter: mikrobiologi <6 jam, logam 24–48 jam, organik tertentu maksimal 24 jam.