Tahun 2025 menjadi momentum penting dalam sejarah pengelolaan lingkungan di Indonesia. Setelah pemerintah memisahkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan menjadi dua lembaga terpisah KLH dan BPLH arus kebijakan terkait pencemaran air kini dibuat lebih teknis, fokus, dan terukur. Pemisahan ini membuka jalan bagi terbitnya regulasi baru, termasuk PERMENLH-BPLH Nomor 11 Tahun 2025, yang memperbarui baku mutu air limbah domestik dan standar teknologi pengolahan air limbah, serta mempertegas langkah nasional dalam menurunkan beban pencemar air di seluruh wilayah Indonesia.
Untuk para praktisi lingkungan, regulator daerah, penanggung jawab IPAL, serta tim compliance perusahaan, perubahan ini bukan sekadar update administratif tetapi pergeseran standar yang akan membentuk cara industri merancang, mengoperasikan, dan memantau sistem pengendalian pencemaran mereka.
HSE SkillUp, sebagai lembaga pelatihan dan sertifikasi kompetensi lingkungan, turut mengikuti perkembangan regulasi ini untuk memastikan tenaga PPPA dan POPAL siap menghadapi perubahan standar nasional.
Latar Belakang Regulasi KLHK 2025 dan Arah Kebijakan Nasional
Peningkatan kualitas air nasional telah lama menjadi prioritas KLHK. Namun, beban pencemar domestik dan non-domestik semakin meningkat seiring urbanisasi, pertumbuhan industri, dan perubahan konsumsi masyarakat.
Beberapa faktor pendorong lahirnya PERMENLH-BPLH 2025 antara lain:
Pengetatan standar badan air sesuai PP 22/2021
Maraknya pencemaran domestik tidak terkelola
Kesenjangan teknologi IPAL antar daerah
Tingginya parameter mikrobiologi pada badan air
Tuntutan global terhadap kepatuhan ESG
Karena itu, regulasi 2025 membawa pendekatan baru: teknologinya diatur, bukan hanya baku mutunya.
Regulasi Baru KLHK 2025 untuk Pengendalian Pencemaran Air
1. Baku Mutu Air Limbah Domestik Terbaru (PERMENLH-BPLH No. 11/2025)
Regulasi ini menggantikan ketentuan sebelumnya (P.68/2016). Perubahan utamanya mencakup:
a. Pembagian berdasarkan jenis limbah
b. Pembagian berdasarkan tujuan pembuangan
c. Parameter yang ditata ulang
Contoh perubahan signifikan:
BOD untuk pengolahan tersendiri → 30–75 mg/L (turun dari ketentuan lama)
COD buangan non-kakus → 80–100 mg/L
Fecal coliform → 1.000 MPN/100 mL untuk kebanyakan buangan
Parameter mikrobiologi wajib untuk fasilitas kesehatan
2. Pengolahan Air Limbah Secara Terintegrasi
Untuk industri yang menggabungkan air limbah domestik dan non-domestik, baku mutu dihitung dengan rumus neraca massa, bukan nilai baku mutu tunggal.
Contoh penerapan:
Contoh BOD gabungan:
Hal ini berimbas besar bagi industri multi-unit seperti pabrik F&B, kimia, dan manufaktur kompleks.
3. Standar Teknologi IPAL Domestik
Ini bagian paling transformasional.
KLHK kini menetapkan standar teknologi wajib, meliputi:
Untuk debit ≤ 3 m³/hari:
Untuk debit 3–50 m³/hari:
Equalization tank
Anaerobik (baffled reactor)
Aerobik (Extended Aeration, SBR, MBR)
Secondary clarifier
Filtrasi
Disinfeksi UV/khlorin
Teknologi pilihan:
Perusahaan yang ingin memahami peran dan keharusan kompetensi personel, bisa membaca:
Peran Sertifikasi PPPA dan POPAL dalam Meningkatkan Peringkat PROPER Perusahaan.
4. Ketentuan Teknis Baru untuk Persetujuan Lingkungan
Semua kewajiban standar teknologi harus masuk ke:
Dokumen lingkungan wajib menyesuaikan apabila:
5. Ketentuan Peralihan 2 Tahun
Perusahaan diberi waktu maksimal 2 tahun untuk menyesuaikan IPAL dan dokumen lingkungan sejak regulasi ini diundangkan.
Dampak Regulasi KLHK 2025 untuk Industri
1. Dampak Operasional
Upgrade IPAL wajib
Monitoring upstream-outfall
Penambahan unit pemisah minyak & lemak
Penyesuaian kapasitas tangki septik
2. Dampak Biaya
Perkiraan biaya upgrade IPAL naik 20–40% tergantung jenis proses
Industri kecil → dampak paling terasa
Industri besar → wajib investasi di kombinasi anaerob–aerob modern
3. Dampak terhadap PROPER & ESG
Untuk pemahaman kompetensi terkait profesi teknis, baca:
Panduan Lengkap Sertifikasi PPPA dan POPAL serta Mengenal Perbedaan PPPA dan POPAL.
Implikasi Regulasi 2025 terhadap PPPA & POPAL
1. Kebutuhan Kompetensi Baru
Tenaga PPPA/POPAL harus memahami:
Perhitungan baku mutu terintegrasi
Kriteria desain IPAL terbaru
Parameter mikrobiologi wajib
Standar teknologi berdasarkan kapasitas debit
Persyaratan dokumen lingkungan terbaru
Lihat panduan lengkapnya di artikel:
Langkah-Langkah Menjadi Penanggung Jawab Pengendalian Pencemaran Air (PPPA).
2. Pentingnya Sertifikasi Kompetensi
Dengan regulasi baru ini:
Audit kompetensi operator & penanggung jawab IPAL semakin ketat
Tim PPPA & POPAL wajib memahami regulasi hingga ke lampiran
Pelatihan berbasis standar SNI dan baku mutu menjadi kebutuhan utama
HSE SkillUp menyediakan program pelatihan dan sertifikasi PPPA/POPAL berbasis regulasi terbaru untuk mendukung kesiapan industri.
Studi Kasus Implementasi di Lapangan
1. Pabrik FMCG 40 m³/hari
Masalah: grease trap tidak memadai → TSS & minyak tinggi.
Solusi sesuai regulasi: upgrade anaerob–aerob + filtrasi + desinfeksi UV.
2. Kantor 500 Karyawan
Debit domestik ~15 m³/hari → wajib equalization, aerasi, clarifier.
Tanki septik SNI saja tidak cukup.
3. Fasilitas Kesehatan
Parameter mikrobiologi tambahan (Salmonella, Shigella, Vibrio)
→ risiko gagal PROPER jika tidak comply.
Rekomendasi Langkah untuk Perusahaan
Checklist Kepatuhan
Artikel “Mengapa Sertifikasi POPAL Penting bagi Operasional IPAL” dapat membantu memahami urgensi kompetensi teknis operator.
FAQ
1. Apa perbedaan besar antara regulasi 2016 dan 2025? Regulasi 2025 menambahkan standar teknologi wajib, parameter lebih ketat, serta penghitungan baku mutu terintegrasi.
2. Berapa lama masa transisi pemenuhan regulasi? Perusahaan diberi waktu 2 tahun sejak tanggal diundangkan.
3. Apakah semua perusahaan wajib memiliki IPAL yang sesuai standar teknologi baru? Ya, khususnya perusahaan dengan debit ≥3 m³/hari.
4. Bagaimana menghitung baku mutu terintegrasi? Dengan rumus neraca massa yang menggabungkan kadar dan debit masing-masing limbah.
5. Apa dampaknya bagi tenaga PPPA & POPAL? Kompetensi teknis wajib ditingkatkan karena standar desain & pemantauan IPAL berubah signifikan.
Penutup
Regulasi KLHK 2025 membawa perubahan besar bagi dunia pengelolaan air limbah di Indonesia. Dengan pendekatan baku mutu yang lebih ketat dan standar teknologi yang detail, perusahaan harus bergerak cepat untuk memastikan seluruh fasilitas dan personel siap memenuhi ketentuan baru.
HSE SkillUp berkomitmen mendukung industri melalui pelatihan, sertifikasi, dan edukasi berbasis regulasi terbaru, agar setiap perusahaan dapat mencapai kepatuhan yang optimal sekaligus meningkatkan performa PROPER.